
Seringkali situasi berjalan tak sesuai kehendak. Atau mungkin meninggalkan anda. Mulai dari, promosi terhambat, usulan di tolak, hingga hal sepele: data komputer rusak.
Semua itu bisa jadi mengecewakan dan getir. Anda di persilakan memilih sikap apa pun yang anda mau, namun jangan sampai kehilangan semangat. Saat anda memilih untuk tetap semangat dan positif, sesungguhnya pilihan itu tak banyak. Pertahankan semangat anda meski situasi sulit dan tidak memihak anda.
Percayalah, anda takkan sanggup kecewa selama dua puluh empat jam terus-menerus. Pada saatnya semangat anda menemukan harapan baru. Tetaplah optimis untuk mengerjakan segala sesuatunya. Kesulitan itu hanya sementara datang untuk pergi. janganlah kehilangan antusiasme dan semangat, karena itulah pegangan yang kokoh.
Semangat adalah milik anda yang hakiki. Bukankah semangat adalah kata lain dari "sepirit"? Sedangkan "spirit" adalah roh dan jiwa anda.
dari bang Ryan dan Dodi (kawan YM)
Thursday, October 15, 2009
Tetaplah Bersemangat!
Monday, October 12, 2009
Berani Gagal
Berani Gagal
PERNYATAAN John. F. Kennedy ini saya yakini kebenarannya. Itu bukan sekedar retorika, tetapi memang sudah terbukti dalam perjalanan hidup saya. Gagal total itulah awal karier bisnis saya.
Pada akhir 1981, saya merasa tak puas dengan pola kuliah yang membosankan. Saya nekad meninggalkan kehidupan kampus. Saat itu saya berpikir, bahwa gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal dalam mengejar cita-cita lain. Di tahun 1982, saya kemudian mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.
Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Dari awalnya yang sangat sepi peminat - hanya 2 orang - sampai akhirnya peminatnya membludak hingga Primagama dapat membuka cabang di ratusan kota, dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia.
Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan itu adalah sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar. Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan suatu kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Kita tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata masih lebih suka melihat orang yang sukses dari pada melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal.
Maka, bila Anda seorang entrepreneur yang menemui kegagalan dalam usaha, maka jangan berharap orang akan memuji Anda. Jangan berharap pula orang di sekitar anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal.
Jangan berharap Anda tidak disalahkan. Jangan berharap juga semua sahabat masih tetap berada di sekeliling Anda. Jangan berharap Anda akan mendapat dukungan moral dari teman yang lain. Jangan berharap pula ada orang yang akan meminjami uang sebagai bantuan sementara. Jangan berharap bank akan memberikan pinjaman selanjutnya.
Mengapa saya melukiskan gambaran yang begitu buruk bagi seorang entrepreneur yang gagal? Begitulah masyarakat kita, cenderung memuji yang sukses dan menang. Sebaliknya, menghujat yang kalah dan gagal. Kita sebaiknya mengubah budaya seperti itu, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang pada peluang yang kedua.
Menurut pengalaman saya, apabila orang gagal, maka tidak ada gunanya murung dan memikirkan kegagalannya. Tetapi perlu mencari penyebabnya. Dan justru kita harus lebih tertantang lagi dengan usaha yang sedang kita jalani yang mengalami kegagalan itu. Saya sendiri lebih suka mempergunakan kegagalan atau pengalaman negatif itu untuk menemukan kekuatan-kekuatan baru agar bisa meraih kesuksesan kembali.
Sudah tentu, kasus kegagalan dalam bisnis maupun dunia kerja, saat krisis ekonomi kian merebak dan bertambah. Ribuan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kehilangan mata pencahariannya. Sungguh ironis, seperti halnya kita, suka atau tidak suka, setiap manusia pasti akan mengalami berbagai masalah, bahkan mungkin penderitaan.
Bagi seorang entrepreneur, sebaiknya jangan sampai terpuruk dengan kondisi dan suasana seperti itu. Kita harus berani menghadapi kegagalan, dan ambil saja hikmahnya (kejadian dibalik itu). Mungkin saja kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita, membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Untuk mengajarkan kita menjadi gagah, tatkala lemah. Menjadi berani ketika kita takut. Itu sebabnya mengapa saya juga sepakat dengan pendapat Richard Gere, aktor terkemuka Hollywood, yang mengatakan bahwa kegagalan itu penting bagi karier siapapun.
Mengapa demikian? Karena selama ini banyak orang membuat kesalahan sama, dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Justru sebaliknya, kita seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, kita harus yakin akan menemukan kesuksesan di penghujung kegagalan.
Ada beberapa sebab dari kegagalan itu sendiri. Pertama, kita ini sering menilai kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu "melankolis" dan suka memvonis diri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat, kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau atau tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha.
Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan membuat kita yakin untuk bisa mengatasinya. Bila kita mengalami sembilan dari sepuluh hal yang kita lakukan menemui kegagalan, maka sebaiknya kia bekerja sepuluh kali lebih giat. Dengan memiliki sikap dan pemikiran semacam itu, maka akan tetap menjadikan kita sebagai sosok entrepreneur yang selalu optimis akan masa depan. Maka, sebaiknya janganlah kita suka mengukur seorang entrepreneur dengan menghitung berapa kali dia jatuh. Tapi ukurlah, berapa kali ia bangkit kembali.
Purdi E Chandra
Kembali
Assalamualaikum wr wb..
Entah sudah berapa lama saya tidak pernah menulis lagi.
Bukan karena bosan mungkin, dan bukan juga dikarenakan alasan klasik "tak ada ide".
Tapi lebih karena terlalu banyak yang semestinya ditulis.
Bukan hal yang penting, toh akhirnya saya kembali.
Wednesday, May 6, 2009
Biru Laut
Untuk pikiranku...
Kemana mataku memandang?
Biru...
Biru...
Alihkan pandanganmu kataku!
Sekali lagi biru
Kenapa semua terasa begitu sempit?
Kenapa semua yang terlihat hanya cat biru laut yang terkelupas sana sini?
Apa karena Kamar ini begitu sempit?
Kamar ini bukan dewa
Mampu membawa pikiran anak manusia agar sempit seperti dirinya
Terhampar dunia luas di luar sana
Kuatkan hati
Luaskan pikiran
Sudah kukatakan padamu kawan,
Bahkan pikiran pun bisa menetes air matanya
Sadar ia bahwa pemiliknya membuatnya jadi kecil
Sekecil kamar biru laut itu
*sebenernya aku mau nulis apa sih=.=,tauk lah..muncul di pikiran..tulis aja lah
Tuesday, April 14, 2009
Luar Binasa
14 April 2008 saat hujan..
Aku melaju dengan motor kesayangan ku di kompleks pendidikan itu. Kompleks Universitas Mulawarman Samarinda.
Sebuah Kompleks yang luas. Mungkin kompleks kampus -MUltimedia Universiti Melaka- tercintaku itu kalah luas dibanding kompleks Unmul ini.
Seperti jarum menusuk-nusuk di wajah, air hujan terus menerpa muka hitamku. Sakit.
Tapi rupanya ada yang lebih menyakitkan lagi.
Ketika harus melihat penyebab mengapa si Zainul teman SMPku itu sampai tidak masuk kuliah beberapa minggu yang lalu. Kampusnya tergenang banjir.
Betul-betul mengerikan. Sebagai salah satu universitas terkemuka di Kalimantan Timur. Ternyata kualitasnya hanya segini.
Berbanding terbalik dengan megahnya pembangunan fakultas sana fakultas sini. Gedung ini gedung itu.
Dari dulu aku memandang kampus ini betul-betul aneh. Aku bingung mengapa teman-teman SMAku sampai tidak pernah bertemu walau mereka satu universitas. Alasan mereka,"beda kampus".
Oke aku mengerti,tapi apa sampai tidak dapat bertemu saat makan siang? Dan jawabannya terletak pada banyaknya kantin sana sini. DI setiap fakultas ada kantin. Bagus sebenernya, tapi justru itu yang akan membuat mahasiswa fakultas A bakal merasa asing dengan mahasiswa fakultas B.
AKu rasa akan lebih baik dibangun sebuah kantin besar,lebih bisa menghemat biaya. Persatuan mahasiswa tetap terjaga.
Tiap Fakultas punya gedung untuk kelas mereka sendiri sendiri. Menyedihkan!!
SEbuah pemborosan, sebuah pembangunan yang tidak mengindahkan dampak lingkungan.
Aku rasa akan lebih baik kalau dibuat satu gedung besar, yang bisa dipakai untuk semua fakultas sebagai kelas tempat mendidik. Jadwal pemakaian tinggal rektorat yang mengatur.
Yang lebih parah? Tiap fakultas punya musholla sendiri-sendiri. Entah apa fungsi dari masjid besar di tengah tengah kampus itu. DIbangun hanya untuk dipamerkan. DIbangun hanya untuk disia siakan.
Aku mengambil contoh fakultas kehutanan. Beberapa tahun lalu mereka membangun sebuah gedung baru yang lebih besar. Betul-betul bagus.
Tapi sekarang? seiring berkurangnya minat para pelajar yang ingin masuk FAHUTAN. Gedung itu jadi tidak optimal penggunaannya. Kalau tetap dijaga kebersihannya sih, tidak jadi soal. Tapi siapa yang mau membersihkan?
Daripada disebut sebuah gedung fakultas, akan lebih cocok disebut gedung tua bekas ambisi penguasa.
Perpustakaan?Jangan tanya. Perpustakaan Luar Biasa yang lain daripada yang lain.
Orang ramai lalu lalang keluar masuk. Sekedar melepas penat mengikuti pelajaran yang membosankan. Entah apa yang dibicarakan orang-orang itu disana. Yang pasti, Buku buku itu hanya terdiam membisu tanpa pernah merasa disentuh sedikitpun.
Einstein pun mungkin tak akan mau membaca disitu. Buku dan debu sama banyaknya. Sudah dapat ilmu, dapat bonus penyakit pula. Sebuah komposisi indah.
Ini bukan kompleks pendidikan. Tapi lebih cocok disebut sebagai jalur alternatif bagi yang tidak ingin terjebak macet.
Orang bebas lalu lalang di lingkungan kampus. Bahkan Angkot. Luar binasa.
LElah aku melihatnya, lelah aku menulisnya, lelah aku menggambarkannya...


RSS Feed (xml)